Semesta Ketika Malam

Semesta Ketika Malam

Pergi ke semesta luas
Bukan karena hidup yang getir
Atau kisah yang buat aku khawatir
Juga bukan takut dan merasa cemas
Hanya sekedar ingin melihat angkasa malam

Bosan dengan rumah yang sempit
Seluruhnya penuh dengan masalah rumit
Aku rindu kamu
Tapi tak rindu rumah

Angin semilir ini yang membuatku pergi
Cahaya bulan yang tertutup rimbunnya tepian hutan
Daun yang jatuh di atas api unggun
Yang membuat hati ini serasa menyala terang

Walau tanpamu disampingku
Malamku terasa benderang
Tercerahkan oleh harapan
Kilauan wajahmu juga membuatku rindu

Suara bincangan hewan malam
Dan tikus liar cukup menemani mimpi-mimpiku bersamamu
Bulan memang tar terlalu terang
Tapi kunang-kunang membawa tenang,
Mengurangi malam yang mencekam

Hasnan Hafidh
21/6/2016

Temani

Temani

Aroma rambutmu berasa secangkir kopi
Seduh sedap alami
Terurai tertiup angin perkebunan pagi
Lemah, seperti juga tari yang pernah kulihat di Negeri Turki

Ketika aku akan mendekapmu, engkau pergi
Ingin aku mengecupmu di pipi
Yang lebih lembut dari para peri
Juga jika memandangmu serasa luas seperti memandang lautan Pulau Hawaii

Ya, engkau yang bentuknya lebih indah,
dari seratus makna
Aku pergi engkau neraka menebus kesalahan cinta
Sedangkan hatimu naik menuju surga

Menatapmu di suatu tempat,
Lalu tempat itu berubah menjadi Taman Eden
Atau Taman Gantung di Babylonia
Suaru mengubah desiran angin muson berubah menjadi lantunan biola

kini jasadmu menepi di perkuburan sepi
Menangis tersedu berhari-hari
Terputus urat dan seluruh nadi
Aku ingin menyusulmu pergi,
Aku ingin mati,
Tapi, Temani.

Hasnan Hafidh
20/1/2016

Pemilik Masa Lalu

Pemilik Masa Lalu

Kita adalah pemilik masa lalu
Di setiap waktu kita selalu berusaha menghapusnya
Kau hanya ingin mengingat semua yang menyenangkan
Tanpa disadari kau tidak mempelajari kesalahan,
dan pengalaman menyedihkan yang membuat kita selalu tegar

Apakah kau mau menziarahi kemesraan kita?
Apakah kebencianmu itu terus membakar pikiranmu?
Aku ingat waktu kita tak bisa berkata-kata,
di taman penuh lampu
Disaat aku bercanda dan kamu tertawa seru

Kini kita teringkuk tersedu-sedu
Bukan karena salah satu ada yang pergi
Tetapi ada salah satu yang ditinggal sendiri
Hmm, aku iri pada kumbang yang bercumbu, manisku.

Hasnan Hafidh

20/12/2015

Hujan Bulan November

Nyaman duduk disamping jendela
Berselimut sambil memandang derasnya hujan
Hujan November telah menyapa
Derai air mata mulai kurasa

Lihat angkasa, bagai lautan tinta hitam kelam
Aku rindu pada seseorang
Seseorang yang menjadi khayalan ‘tuk temani lautan kehidupan
Hujan tak kunjung reda hingga pagi menjelang

Bagaimana aku bisa melupakan sebuah kenangan
Kenangan yang membuatku diam berjam-jam dalam kesendirian
Teringat pertama kita jumpa
Kita saling bertatap mata

Saat ini kau pergi berjalan dengannya
Tak pedulikan diriku yang terluka
Tapi tak bisa ku pisah dirimu dengan dia
Hanya lapang dada dan berdoa semoga bahagia

Tangisku ini sudah tak berguna
Air mata ini sia-sia, bagai buah simalakama
Kukira kau pelengkap tulang rusuk ini
Tetapi salah, aku semakin tak mengerti semua ini

Sudah kurasakan pahitnya menjalani kesendirian
Tak sepahit luka yang kini kau tingggalkan
Luka yang sudah terpatri dalam jiwa
Mungkin, takkan terobati hingga mati

Hujan sudah reda, terasa senyap, embun-embun hinggap pada daun
Mencoba melupakan semua kesakitan ini
Matahari cerah ceria ucapkan salam pagi

Menggugah senyum relung hati

14/11/2015

Surat Dari Medan Perang

Surat dari Medan Perang


Terkadang kita semua merasa kesepian
Ingin pulang ke tanah kita dilahirkan
Atau kepada sang pujaan yang sudah lama tak berkencan
Masa lalu yang tak dapat kita genggam


Yang sudah tua ingin jumpa dengan anak yang bertarung di negeri orang
Seorang wanita yang selalu memikirkan pasangannya  bertempur di medan perang
Terkadang, kamu tidak tahu kegelisahan yang mereka rasakan
Tiap detik, tiap menit hanya menunggu kabar yang mendebarkan


Sesaat kamu ingat, tangan lembut ibumu yang mengandungmu
Dekapan hangat kekasih hatimu
Nakalnya anak-anak manismu
Kampung halaman yang selalu menyambut kedatanganmu


Aku tidak ingin mati di negeri nun jauh
Negeri yang berbicara dengan bahasa yang tak kuketahui
Senyuman dan candamu membuatku tersakiti
Karena aku merasa semua hanya imajinasi


Kita sudah kehilangan semua
Waktu yang seharusnya kita habiskan bersama anak-anak kita
Dan pergi ke rumah orang tua kita
Atau Jalan-jalan ke taman pinggir kota


Serdadu-serdadu yang mati dalam kubangan darah,
Umpatan prajurit yang marah,
Tangisan prajurit yang kalah,
Semua hanya menambah suasana menjadi resah

Aku ingin mendengarkan tangisan anak-anak kita meminta susu
Aku ingin mendengar rintihanmu ketika aku meninggalkanmu
Aku ingin mendengar isak kedua orang tuaku
Aku ingin mati di sisimu, sayangku.

2 November 2015
Hasnan Hafidh


Manusia

Manusia

Kesabaran  memang ada batasnya
Tapi bagaimana dengan keserakahan, keegoisan, dan kesombongan?
Mungkin hanya akhir hidup yang memberi sebuah jawaban
Kebanyakan manusia hanya memikirkan kekayaan

Tanpa rasa kasih sayang, kebersamaan, kekeluargaan
Perang, penindasan, kelaparan sudah menjadi bagian dari kehidupan
Sebagian berkata merupakan suratan Tuhan
Sebagian juga berkata merupakan akibat kemunafikan

Manusia merasa menjadi pusat semesta
Kebohongan adalah suatu bahasa akibat bergeraknya zaman
Semua telah diramalkan oleh Pujangga Jawa
Zaman ini, zaman penuh kegilaan

Yang memilih hidup dengan penderitaan
Yang hidup penuh keikhlasan
Yang tabah akan cobaan
Yang 'kan mendapat buah kenikmatan

Dendam, iri, dengki memucuk di hati
Seolah itu mutlak tak bisa pergi
Selalu merasa tinggi
Manusia, Haus puisi, haus terpuji

31 November 2015
Hasnan Hafidh

Menikmati Kesunyian

Menikmati Kesunyian


Semua hiruk pikuk tentang dunia mulai membuatku bosan
Atau hingar bingar peradaban yang penuh kemewahan
Pergi ke hutan, berteman dengan kesunyian
Meninggalkan semua kebiasaan yang karatan

Menyendiri, berbicara dengan keheningan
Berpikir, ditemani tenangnya air mengalir
Mendengar lirih kicauan makhluk belantara
Berbuat, sambil sesekali meniru perilaku alam

Saat malam, menengadah keatas, bulan tua menyala kekuning-kuningan
Menatap harapan dan ribuan bintang berserakan
Kilau gemilaunya mengundang rasa sejuk akan hidup
Tertidur, beralaskan tanah basah karena embun

Hidup sederhana berdinding tumpukan kayu reyot
Dengan atap daun-daun kering yang jatuh
Berpagar pepohonan dan rumput-rumput liar
Menghindari kehidupan yang rakus, egois, serakah

Belajar, meneliti keadaan dan tingkah laku hewan-hewan
Tak pernah terasa hawa dingin selalu menusuk kulit
Hati tak pernah merasakan sakit
Pikiran selalu jernih, selalu bersyukur jika mendapat lebih

Merasa ada yang kurang jika tak bisa menikmati anugerah Tuhan
Gunung-gunung yang hening, dan langit selalu bening
Tanpa kegaduhan, tanpa keributan, hanya keindahan yang menawan
Kadang terdengar patahnya ranting-ranting

Memang alam selalu seperti ini
Eksotis, nyaman, segar sungguh-sungguh sakti
Ini semua bukan tentang kesendirian
Tapi tentang pergi meninggalkan kehidupan yang membosankan







Gadis di Jalan

Gadis di Jalan

Kulihat dirimu selalu sedang membaca buku
Didepan mataku membuatku tersipu malu
Sikap dan rona wajahmu menghangatkan jiwa mudaku
Tak pernah kau palingkan wajahmu untukku

Aku ingin nyatakan rasa ini padamu
Tapi hatiku tak mampu membuatkan tempat untuk cintamu agar nyaman padaku
Ketika kau melewati persimpangan jalan
Semua bagian tubuh ini terpaku melihatmu dari bawah pohon rindang

Hati dan raga ini hanyalah pengecut yang mencintaimu dalam diam
Berjuta kata yang tak sempat kuungkapkan
Isyarat yang tak tersampaikan, dan ratapan
cinta bocah ingusan

Oh, engkau gadisku
Merah pipimu semerah mawar Sri Wedari
Cintamu menantang semua gunung berapi
Kata-katamu hamparan laut tak bertepi

Oleh: Hasnan Hafidh

Diri Ini

Diri Ini

Kuayunkan kaki melangkah
Menepis rasa gundah dan gelisah
Andai dunia tahu betapa sedihnya jiwaku
Entah sampai kapan jiwa ini terbeleggu

Belenggu cinta, mimpi, dan kisah hidup
Aku bergumam, merenung, menyanyi dalam sepi
Berteduh cahaya dibalik atmosfer malam
Dengan semua kegelisahan terpendam
Hidupku kelam, duniaku kejam

Kulihat langit meneteskan air mata saat ini
Entah apakah Ia peduli dengan diri ini
Bayangan hitam memandang sinis kemari
Aku ingin meluapkan semua kesedihan bersama alunan suara binatang malam

Mungkin sampai aku pergi tinggalkan semua ini
Maka selesai sudah semua urusan
Hingga saat itulah hanya urusan Tuhan Menilaiku bagaimana

Oleh : Hasnan Hafidh
Foto : Google




Keresahan

Keresahan

Kita semua pernah merasakan patah hati
Susah tidur, susah bernafas, dan sulit berpikir
Entah karena sedih
Atau beban pundak yang berlebih

Hati hampa, pikiran kosong
Dan tubuh yang tak bisa lagi untuk kita tegakkan
Mata memandang tanpa arti
Telinga mendengar suara bising tanpa henti

Beban-beban menuntut diselesaikan
Hingga batas waktu yang telah ditetapkan
Hanya kita yang dapat merampungkan, tapi apa daya aku tak tahan
Aku ingin cepat kembali kepada ketiadaan

Berada dalam pelukan sang Tuhan
Dengan langkah kaki ringan berjalan
Ingin hilang duka nestapa didunia yang penuh kebosanan
Menghabiskan detik demi detik menunggu hari penghakiman

Aku ingin kebahagiaan
Kedamaian tidur akhir pekan
Kenyamanan dalam menikmati keindahan
Kebebasan sejati

Dunia ini memang kandang anjing
Dan mereka adalah anjing-anjing yang terkadang menertawakan hidup kita

Oleh : Hasnan Hafidh


Romantisme Senja

Romantisme Senja

Kujumpai Dibawah Langit Senja Ini
Diantara Rerumputan Dan Harumnya Melati
Kukagumi Parasmu Yang Bermandikan Kilau Mentari
Gerak Dan Langkahmu Selembut Tarian Para Sufi

Duduk Bersama Dalam Sepi Bertiupkan Angin Yang Menari
Saling Pandang Tetapi Tak Dapat Ingkar Pada Perasaan Hati
Yang Kusaksikan Pada Wajahmu Adalah Cahaya Bintang Malam
Aku Merasa Ini Semua Mukjizat Dari Para Malaikat

Kugenggam Tanganmu, Kupegang Erat, Kurasakan Romantisme Ini
Kau, Lebih Sempurna Dari Para Bidadari Surgawi
Semua Berlalu Seperti Ilusi
Kita Nikmati Indahnya Tenggelamnya Mentari

Cahaya Mulai Memudar Pergi
Malam Kian Menanti
Air Mata Menitik Setelah Kuingat Kenangan Ini
Romantisme Dibawah Langit Senja



Oleh : Hasnan Hafidh


Foto : Hasnan

Sebuah Kota

Sebuah Kota


Kuterpa selalu hangatnya debu jalanan
Lembutnya angin yang bertiup
Teriknya sengat sang mentari
Aku tidak tahu kemana kaki ini kan kulangkahkan

Sudah kulihat semua bangunan kota adikarya manusia
Kunikmati nyanyian pohon rindang pinggiran kuil Buddha
Kulewati rerumputan basah setapak yang sepi
Atau gedung-gedung tak berpenghuni 

Tugu peringatan kemenangan, gereja yang sunyi
Masjid yang tegak bendiri, dan hutan yang tak terjamah kaki
Dari jembatan tua yang melintang ini dapat kulihat semuanya
Sebuah kota klasik menyejukkan hati



Oleh : Hasnan Hafidh
Foto : Google ( Tugu Gatot Subroto )

Berteman Kesendirian

Berteman Kesendirian

Pertama ku jumpa, indah tak sanggup ku memandang
Cintamu seluas rumput di hamparan padang ilalang
Bercahayakan bintang fajar
Membuat ku mabuk tak tersadar

Dimatamu pancarkan cahaya bulan
Canda tawamu tak pernah buat ku bosan
Kuingat pertama kita bertemu
Kau tersenyum semanis madu

Namun, kini semua hanya bisa ku kenang
Hatiku bak pohon tak berbatang
Terhemas angin, terhempas badai
Kini ku lemah terkulai meratapi mimpi

Oleh : Hasnan Hafidh
Foto : Google 

Tenangnya Alam

Tenangnya Alam

Alam, kau mengerti semua kegelisahan
Bersamamu, hilang semua beban
Warna pelangi berkilau sangat menawan
Hijau dedaunan yang sangat menenangkan

      Hingga malam menjelang
      Matahari dengan leluasa menghilang
      Cahaya kota mulai kelam menyambut petang
      Seiring cahaya sang surya tenggelam dengan tenang

Sekarang semua menjadi petang
Tetapi jiwa ini belum tenang
Bumi dan bulan tersenyum saat malam
Tetapi aku masih merenung dan terdiam

      Dingin ini menusukku
      Membawa ribuan pertanyaan yang tak aku tahu
      Tenangnya alam ini
      Membuat hidup lebih berarti


     Puisi ini saya buat ketika saat saya sedang melaksanakan pelajaran Bahasa Indonesia. Entah saya mendapat inspirasi ini dari mana. Tapi tulisan-tulisan itu seolah-olah muncul di pikiran saya. Memang, alam ini dapat menghilangkan kejenuhan, kegelisahan, dan keresahan dalam diri kita. Cobalah naik gunung atau kalau tidak jalan-jalan pergi ke desa melawati sawah-sawah sejenak meninggalkan kehidupan kota yang hedon dan ramai.

      Sedikit saya kutip kata-kata dari Soe Hok Gie Mapala UI, berikut :
"Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia - manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi ( kemunafikan ) dan slogan - slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung." ( Soe Hok Gie - Catatan Seorang Demonstran )




-Hasnan Hafidh